Jakarta, 4 Februari 2026 – Selama beberapa dekade, kanker usus besar identik dengan pola makan rendah serat dan risiko yang meningkat seiring pertambahan usia. Namun, pemahaman tersebut kini tidak lagi sepenuhnya relevan. Dunia medis tengah menghadapi pergeseran paradigma yang mengkhawatirkan, ditandai dengan meningkatnya kasus kanker kolorektal pada kelompok usia produktif. Fenomena ini diperparah oleh temuan terbaru tentang peran kompleks mikrobioma usus, yang turut memengaruhi perkembangan penyakit dan mengubah cara pandang terhadap faktor risiko serta pencegahannya.
Menurut World Health Organization (WHO), kanker kolorektal merupakan salah satu jenis kanker paling umum di dunia sekaligus penyebab kematian akibat kanker terbesar kedua secara global. Pada tahun 2020, tercatat sekitar 1,9 juta kasus baru dengan lebih dari 900 ribu kematian di seluruh dunia, dan angkanya diproyeksikan terus meningkat dalam dua dekade mendatang. Tren ini menegaskan bahwa kanker kolorektal bukan sekadar masalah kesehatan individu, melainkan tantangan kesehatan masyarakat global yang semakin mendesak.
Salah satu fenomena yang masih kurang disadari publik adalah Early-Onset Colorectal Cancer, yaitu kanker kolorektal yang muncul pada individu berusia di bawah 50 tahun. Dalam tiga dekade terakhir, jumlah kasus pada kelompok usia ini meningkat lebih dari dua kali lipat. Ironisnya, karena usia tersebut kerap dianggap “terlalu muda” untuk terkena kanker, gejala awal seperti perubahan pola buang air besar atau adanya darah pada tinja sering disalahartikan sebagai wasir atau gangguan pencernaan ringan. Akibatnya, banyak pasien baru terdiagnosis pada stadium lanjut, padahal tumor pada usia muda cenderung lebih agresif dan lebih cepat menyebar dibandingkan pada kelompok usia yang lebih tua.
Faktor metabolik juga memegang peranan penting dalam risiko kanker kolorektal. Kadar insulin yang tinggi akibat konsumsi gula berlebih dan gaya hidup minim aktivitas fisik dapat mendorong pertumbuhan sel secara berlebihan. Insulin dan hormon terkait merangsang sel-sel dinding usus untuk membelah lebih cepat, sehingga peluang kesalahan replikasi DNA meningkat, yang akhirnya memicu mutasi dan pembentukan sel kanker.
Meski begitu, kemajuan pengobatan kanker saat ini memberikan harapan bagi pasien kanker kolorektal. Terapi modern kini semakin presisi dan personal, mengombinasikan bedah minimal invasif, kemoterapi dan radioterapi berbasis target, serta imunoterapi dan terapi molekuler yang disesuaikan dengan karakter genetik tumor. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan efektivitas pengobatan, tetapi juga membantu menjaga kualitas hidup pasien, terutama jika kanker terdeteksi pada tahap awal.
Dengan demikian, memahami kanker kolorektal saat ini berarti melihat tubuh manusia sebagai ekosistem yang saling terhubung, meliputi gaya hidup, mikrobioma, dan metabolisme. Penyakit ini tidak lagi sekadar “penyakit orang tua” yang bisa dicegah dengan satu perubahan sederhana, melainkan tantangan kesehatan kompleks yang menuntut kewaspadaan, pemahaman mendalam, dan pemanfaatan kemajuan ilmu kedokteran secara optimal.
