Jakarta, 11 Februari 2026 – Berita tentang Forum Regional Asia Tenggara untuk Pencegahan dan Pengendalian Dengue yang digelar pada 9–10 Februari di Jakarta, yang dihadiri oleh perwakilan negara-negara ASEAN, mengingatkan saya pada pengalaman di tahun 2011. Saat itu, saya menjabat sebagai Dirjen Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan dan menyelenggarakan ASEAN Dengue Conference, yang menghasilkan “Jakarta Call for Action on Combating Dengue”. Seruan ini kemudian dicanangkan bersamaan dengan peluncuran resmi Hari Dengue ASEAN pada 15 Juni 2011 di Museum Nasional Jakarta. Peringatan Hari Dengue ASEAN tahun 2011 di Jakarta tersebut merupakan yang pertama kali dilakukan.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa pada tahun 2025 tercatat 161.752 kasus demam berdarah dengue dengan 673 kematian, sehingga angka kematian (case fatality rate/CFR) mencapai 0,42%. Jika dibandingkan dengan angka global, menurut artikel ilmiah berjudul “Global dengue epidemic worsens with record 14 million cases and 9000 deaths reported in 2024” yang dipublikasikan di International Journal of Infectious Diseases pada September 2025, CFR dengue secara global hanya 0,07%. Artinya, angka kematian akibat dengue di Indonesia masih tergolong tinggi, sehingga untuk mencapai target “Zero Dengue Deaths” pada 2030, diperlukan upaya pencegahan dan pengendalian yang lebih intensif.
- Pertama, pengendalian vektor, yaitu nyamuk Aedes, yang menjadi penyebab utama penularan. Strategi ini mencakup penerapan 3M Plus secara konsisten (menguras, menutup, dan mengubur tempat penampungan air, plus upaya tambahan), kerja maksimal dari pengelola kesehatan, serta partisipasi aktif masyarakat.
- Kedua, surveilans yang baik. Program pengendalian perlu menyesuaikan diri dengan fluktuasi iklim dan perubahan lingkungan, karena faktor ini memengaruhi populasi nyamuk dan risiko penularan.
- Ketiga, penanganan kasus secara efektif melalui tiga upaya: deteksi dini dengan ketersediaan alat diagnostik seperti rapid diagnostic test (RDT), sistem rujukan yang baik, dan pelayanan optimal di rumah sakit untuk kasus dengue berat.
- Keempat, perluasan cakupan dan peningkatan mutu vaksinasi serta penggunaan pendekatan inovatif seperti nyamuk Wolbachia dan lain-lain.
- Kelima, respons cepat terhadap wabah bila sudah terjadi.
Sebagai penutup, perlu ditekankan bahwa kita saat ini masih berada dalam musim hujan, sehingga kewaspadaan terhadap dengue harus terus ditingkatkan.
Prof Tjandra Yoga Aditama
Komisaris Utama PT Itama Ranoraya Tbk
